CORE IBBI,
Designed by : Marwa Halim

Sejarah

Ketika sebuah perusahaan membutuhkan tenaga kerja terampil, cekatan dan bersedia kerja keras dan tekun, ternyata tak gampang memperolehnya. Apalagi yang menguasai teknik komputer, administrasi dan akuntansi maupun bahasa asing yang memadai. Ada sesuatu yang hilang terasa, proses pendidikan yang representatif untuk mengantisipasi perkembangan zaman.

Amrin Susilo Halim pada waktu itu berpikir untuk mendirikan perguruan tinggi, namun perguruan tinggi dengan ukuran standart yang ada dirasakan tidak memadai. Ia merasa perlu membuat sekolah dengan nilai plus. Oleh karenanya ia merangkul beberapa pengusaha di Medan untuk dapat merealisasikan maksud mulia tersebut.

Ketika Departemen P dan K meluncurkan konsep Link & Match, tim kecil itu merasa memperoleh petunjuk. Artinya, kurikulum dan silabus yang disusun, dapat diarahkan mendekati kebutuhan pasar kerja. Tentu harus bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan pengguna tenaga kerja melalui konsep link & match tersebut. Pada waktu itu disepakati dengan nama IBBI yang merupakan singkatan dari Institut Bina Bisnis Indonesia.

Karena dalam konsep juga direncanakan untuk mengembangkan lembaga pendidikan bahasa, maka IBBI juga bermakna Institut Bina Bisnis Internasional. Dengan sasaran menyelenggarakan pendidikan bahasa asing, bahasa Mandarin dan Indonesia. Bahasa Indonesia diajarkan kepada kalangan konsultan asing yang baru bekerja di Indonesia. Namun, sebagai langkah pertama IBBI memiliki berbagai jurusan antara lain jurusan Sekretaris, Komputer, Pariwisata dan Perhotelan, Akuntansi Manajemen Pemasaran dan Perbankan. Jurusan sengaja dikonsentrasikan ke sana untuk memenuhi kebutuhan pasar. Sementara program Diploma I, dimana mahasiswa dapat menyelesaikan seluruh program hanya dalam waktu dua semester (satu tahun) dipilih untuk menghemat waktu dan biaya bagi anak didik/mahasiswa. Staff pengajar sengaja dipilih tidak hanya dari kalangan lembaga pendidikan tinggi, akan tetapi juga dari kalangan praktisi. Dengan harapan untuk dapat menularkan dan menalarkan pengalaman-pengalaman mereka kepada para mahasiswa. Sekaligus menyebabkan perusahaan di mana mereka bekerja dapat menerima PKL (Praktek Kerja Lapangan) bagi para mahasiswa.

IBBI dirintis dengan pikiran untuk berdiri pada tahun 1994 dan mulai dibangun pada tahun 1996. Didirikan, dibangun, didukung atas dasar obsesi dari para pendiri dan pendukung untuk ikut serta yang semula dari kalangan bisnis elektronik sebagai mitra pemerintah menyelengarakan lembaga pendidikan tinggi di bidang ilmu ekonomi dan bisnis. Ide ini direalisasikan berdasarkan suatui studi yang relatif panjang.

Dilakukan oleh beberapa tokoh formal maupun informal yang keseluruhannya terlibat dalam berbagai kegiatan baik secara berencana, pemikir dan pelaku ekonomi maupun bisnis di wilayah Sumatera Utara. Terdiri dari mereka yang berpendidikan program diploma khusus, S-1, S-2, S-3 bahkan guru besar serta beberapa orang praktisi. Untuk memenuhi harapan sebagai lembaga pendidikan tinggi yang layak serta representatif. Disediakan gedung permanen kemudian disebut sebagai kampus yang dipergunakan sebagai pelaksana proses belajar mengajar, dengan fasilitas yang sangat memadai.

Pendidikan Nasional merupakan realisasi dari amanat yang secara eksplisit dinyatakan dalam pembukaan UUD 1945, yaitu dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan pegangan konstitusional bahwa tiap warga Negara berhak mendapat pengajaran dan pendidikan, serta bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran dan pendidikan nasional yang diatur dengan undang-undang.

Pesan luhur konstitusi ini, yang dicanangkan sejak awal-awal kemerdekaan sampai saat ini masih belum terimplementasi secara optimal. Ini terbukti dari masih rendahnya Angka Partisipasi Kasar nisbah antara jumlah mahasiswa keseluruhan dan besarnya populasi dalam kelompok usia 19-24 tahun yang sampai saat ini masih berkisar sekitar 12 persen. Ketidakberdayaan pemerintah untuk meningkatkan Angka Partisipasi Kasar secara lebih cepat disebabkan oleh keterbatasan dana dan prasarana yang tersedia apalagi mengingat kondisi ekonomi yang masih goncang-gancing seperti sekarang ini. Memang, tugas mencerdaskan kehidupan bangsa bukanlah semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah melainkan juga menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat.

Menyadari akan hal tersebut Yayasan Pendidikan IBBI lahir ke tengah-tengah masyarakat dengan misi dan niat tulus untuk turut berpartisipasi memberikan pelayanan jasa pendidikan dalam upaya pencerdasan kehidupan bangsa sebagaimana yang diamanatkan oleh konstitusi. Dengan kehadiran lembaga ini berarti menambah daya tampung mahasiswa yang pada gilirannya berarti pula telah mengurangi beban pemerintah walaupun dalam kadar yang belum begitu signifikan. Dalam pada itu secara terus terang diakui bahwa lembaga ini tidak berpretensi mengklaim dirinya sebagai lembaga yang terbaik, namun mengingat komitmen para pendiri dan seluruh jajarannya untuk menjadikannya secara bertahap sebagai lembaga yang layak untuk diperhitungkan cukup tinggi, kiranya harapan tersebut bukanlah sesuatu yang bersifat utopis. IBBI ingin menjadikan dirinya sebagai mitra terpercaya pemerintah dan teman seiring perguruan-perguruan tinggi swasta lainya.

Dewasa ini IBBI telah mulai mendapat apresiasi yang cukup menggembirakan dari masyarakat ini terbukti dari besarnya animo calon-calon mahasiswa untuk bergabung dengan lembaga ini, yang dari tahun ke tahun telah menunjukan adanya tren peningkatan yang signifikan. Kondisi seperti ini adalah buah dari suatu proses belajar – mengajar yang terkelola dengan baik di mana variabel-variabel penentunya, seperti tenaga pengajar yang handal dan penuh dedikasi, prasarana pendidikan yang cukup seperti perpustakaan, laboratorium komputer dan lain-lain, serta lokasi kampus yang aman dan mudah terjangkau dari segala arah, pelayanan adminitrasi yang efisien, telah mendapat acungan jempol dari berbagai pihak. Untuk masa-masa yang akan datang peningkatan proses belajar mengajar ini tetap mendapat prioritas utama, sehingga dengan demikian para mahasiswa dan para pengguna jasa pelayanan yang mereka terima. Sudah tentu tak ada gading yang tak retak; dan untuk itu lembaga ini senantiasa terbuka atas semua kritik yang bersifat membangun, karena lembaga ini adalah asset masyarakat yang eksistensi dan sumbangannya bagi pencerdasan kehidupan bangsa dirasakan amat penting adanya

Tak kenal maka tak cinta, maka bagi anggota masyarakat yang belum mengenal IBBI, dengan jujur dapat dikemukakan bahwa anda tidak perlu meragukan itikad baik IBBI, karena IBBI lahir dari masyarakat dan semata-mata untuk kemaslahatan masyarakat. Lembaga ini adalah lembaga resmi yang telah terdaftar di Departemen Pendidikan Nasional, bukan lembaga liar ber-profit motive berkedok pendidikan. Patut disyukuri bahwa sampai saat ini, dan diharapkan demikian seterusnya, arah dan sasaran yang ditempuh IBBI tetap berada pada jalur dan koridor yang benar. Kesemuanya ini adalah untuk menjaga kepercayaan dan masyarakat yang menjadi hakim agung penentu keberadaan lembaga ini.